Showing posts with label Slice of life. Show all posts
Showing posts with label Slice of life. Show all posts

Tuesday, 4 April 2017

Akhir Perjalanan..

Assalamu'alaykum sobat!

Sudah 1 tahun lebih rupanya saya tidak mengisi ruang dalam hati blog tercinta ini. Menjadi dokter muda cukup menyita waktu guys (sebenernya karena rasa malas mengalahkan segalanya sih, hahah).


Alhamdulillah, terhitung tanggal 6 April 2015 saya memulai perjalanan dokter muda saya dalam stase IKM (Ilmu Kesehatan Masyarakat), dan menutup perjalanan ini pada tanggal 1 April 2017. Lama ya, 2 tahun kurang 5 hari, hahaha. Uniknya, jika saya mengawali pengalaman dokter muda di Puskesmas Ambacang Kuranji, pengalaman ini diakhiri di Puskesmas Alai. Pada tanggal 1 April itulah saya terakhir memakai baju dokter muda keramat seperti gambar di bawah ini:



Nah, 8 orang di atas adalah orang yang menemani 2 bulan terakhir saya di 2 Puskesmas, Puskesmas pertama yaitu Puskesmas Air Dingin, dan Puskesmas kedua yang sudah disebut di atas tadi, Puskesmas Alai (pakai I ya, bukan pakai Y). Dari 9 orang ini, satu hal yang pasti, orang yang berada di kanan tengah masih available ya, wkwkwk. Untuk availability ketujuh orang lainnya, silahkan personal message saya langsung ya (tenang, ane agen jodoh yang sangat tidak terpercaya kok). Kok 7 jol? Karena alhamdulillah, sesepuh kami, neng yang ada di pojok kiri atas, she'll getting married soon this month! Kuy fellow blogwalker dimari mendoakan semoga kakak kami satu ini pernikahannya agar sakinah, mawaddah, warahmah :)

Jadi, kenapa sampai 2 kali berada di puskesmas? Jadi gini, jika pada kali pertama, kami berada di puskesmas lebih ke bagaimana kami belajar mengelola puskesmas, membuat perencanaan (plan of action) terkait masalah-masalah yang kami temukan di puskesmas. Ilmu kesehatan masyarakat banget deh, hahaha. Kami disibukkan dengan angka-angka dan data-data, udah kayak skripsi.. Nah, di kali kedua, kegiatan ini dinamakan Rotasi II (Rotasi I adalah semua stase di rumah sakit). Kami memang ditugaskan langsung membantu pelayanan puskesmas. Ibaratnya test drive sebelum melayani pasien ketika gelar dokter sudah didapat. Melayani ternyata menyenangkan lho (kalau pasiennya kooperatif sih). Kalau pasiennya marah-marah, ya aku bisa apa 😅😅. Terkadang pasien datang hanya untuk minta rujukan, padahal sakitnya menurut assessment kami bisa ditangani di puskesmas, baik hingga tuntas atau cukup penanganan awalnya, which means itu sakit mereka either kompetensi 4A atau 3A atau 3B. Angka-angka apa ini jol? InsyaaAllah akan saya bahas di tulisan-tulisan kemudian hehehe.

Berarti udah kayak dokter dong? Mirip-mirip lah, kami periksa pasien, meresepkan obat, melakukan tindakan seperti menjahit, ekstraksi benda asing, injeksi obat, dan banyak hal lain (tentu semuanya dengan supervisi ya). Dan kalian tahu apa yang paling menyenangkan dari semua itu? Yaitu ketika mendengar pasien mengucapkan "terimakasih, dok". Rasanya itu lho.. Bahagia sekali. (hiperbola dikit boleh lah ya, hehe). Pernah satu waktu saya mendapat pasien seorang anak perempuan dengan benda asing berupa peluru pistol mainan warna kuning. Pasien awalnya tenang, pas saya dekati dia langsung menangis 😔 (memang ga cocok jadi spesialis anak). Setelah berbagai manuver dicoba (karena pasiennya bergerak-gerak takut dengan alat yang saya pegang), akhirnya bergulir keluar lah peluru mainan itu. Tapi tetap saja anaknya ngambek sama saya, saya lambaikan tangan dia acuhkan, hahaha.

Anyway, walau judul post ini "Akhir Perjalanan", perjalanan menuju dokter masih belum berakhir sebenarnya. Lebih tepatnya sih Akhir Perjalanan Baju Dokter Muda, hahaha. Kami bersembilan, beserta rekan-rekan kami Pejuang Tangguh UKMPPD Mei 2017 akan berjibaku dalam ujian CBT (Computer-based Test) dan OSCE (Objective Structured Clinical Examination) yang sebentar lagi menghampiri kami. Mohon doanya ya guys! Semoga kami semua ONE-SHOT. Ketik 'aamiin', like dan share (gausah ketik aamiin beneran ya, becanda doang kok. :P. doakan saja kami dalam hati👌) .

Berhubung perjalanan ini sudah mencapai ujung, tag #PerjalananDokterMuda sudah tidak relevan lagi, jadi untuk postingan kedepan akan diperbaharui menjadi #NostalgiaDokterMuda ya, hahaha (info penting pake banget). Rencananya karena pengangguran banyak waktu senggang sambil menunggu ujian, internship, dan kegiatan menunggu lainnya, saya akan coba menulis 144 penyakit yang kompetensi dokter umum deh, itu lho, yang ada disebut-sebut 4A di atas. Semoga bisa terealisasi 💪.

Snelli, here I come!

Sunday, 30 August 2015

Ketika Penerbangan Siang Berakhir di Malam Hari

13.20
30 Agustus. Pesawat Maskapai L tujuan penerbangan Kota P mempercepat lajunya untuk lepas landas dari Gate B3 Terminal 1B bandara internasional di ibukota. B, dokter muda di salah satu rumah sakit di Kota P, merupakan salah satu penumpang yang menggunakan maskapai ini untuk kembali ke Kota P selepas liburan singkat di kota kelahiran. Dalam perjalanan, B diminta pramugari untuk pindah dari seat 24C ke seat 31C, seat yang berada sejajar dengan pintu darurat di kabin belakang. Entah berhubungan atau tidak, selama perjalanan B sulit untuk memejamkan mata sejak pertukaran seat itu. Walaupun akhirnya B menyempatkan diri untuk tidur juga, hahaha.

14.35
B tersentak. Secara tiba-tiba terjadi guncangan yang cukup keras, badan pesawat seolah turun mendadak. Kurang lebih rasanya mirip dengan kondisi ketika kita melaju dalam mobil yang kencang, lalu jalur mobil kita mengalami penurunan. Serasa melayang. Tapi yang membuat B kaget bukan karena guncangan itu, namun karena ketika itu terjadi, secara serentak berteriak histeris. Menegangkan. Setidaknya itu menurut penumpang di seat 32. Untuk B, ia kembali mencoba tidur dengan handsfree terpasang di telinganya.

14.45
Tak lama setelah guncangan tersebut, kapten pesawat mengumumkan bahwa cuaca di Kota P belum memungkinkan untuk pesawat melakukan pendaratan. Alhasil, pesawat pun berputar-putar di atas Teluk B, Kota P, sambil menunggu kesempatan untuk mendarat apabila kondisi cuaca membaik. Setelah sekian lama, datang pengumuman baru dari kapten pesawat bahwa tidak bisa mendarat di Kota P dan terpaksa mengarahkan laju pesawat menuju bandara di Kota M.

16.37
Sudah 3 jam lebih B mengudara sejak dari bandara ibukota. Akhirnya pesawat yang ditumpangi B mendarat di landasan pacu bandara di Kota M. Untuk informasi, waktu tempuh normal Kota M ke Kota P atau sebaliknya dengan menggunakan pesawat adalah 1 jam. B harus menunggu sekian lama untuk menanti kepastian kapan ia bisa kembali terbang menuju Kota P. Untungnya, B tidak sendiri. D, salah satu rekannya yang juga dokter muda, berada dalam penerbangan yang sama. Beberapa penerbangan dari Kota M ke Kota P pun ditunda.

17.02
Hal yang tidak disangka-sangka, di bandara kota M, mereka bertemu dengan beberapa dosen mereka di ruang tunggu bandara Kota M, salah satunya Ibu L. Rupanya Ibu L dan rekan dosennya menjadi pengawas UKMPPD, semacam ujian nasional untuk para calon dokter di Indonesia. Kondisi penerbangan Ibu L ternyata lebih ekstrem dibandingkan penerbangan B dan D. Pesawat mereka yang sudah mengudara menuju Kota P, harus memutar kembali ke Kota karena cuaca yang tidak memungkinkan, ditambah pengumuman kapten pesawat mereka yang menambah keresahan di hati penumpang: “karena alasan bahan bakar”. Salah seorang penumpang berkomentar, “kalau avturnya abis di tengah-tengah, dimana mau nyari SPBU di atas sini coba”, cerita Ibu L.

17.33
Alhamdulillah, B dan D akhirnya mendapat kepastian. Setelah proses boarding ulang yang cukup lama (B dan D harus menunggu lebih dari 1 jam di dalam pesawat), pesawat pun mulai bergerak meninggalkan landasan pacu bandara Kota M setelah terdengar kalimat passengers complete dari pengeras suara kabin pesawat Sambil menunggu proses boarding, salah satu pramugari yang bertugas di kabin belakang (pramugari yang meminta B untuk pindah seat), cukup ramah untuk diajak diskusi santai dengan para penumpang. Dan ternyata pramugari tersebut baru berusia 21 tahun. Usia 21 dan sudah bekerja, sedangkan B, usia 21 dan, ah, sudahlah. hahaha. Perjalanan yang panjang dan menegangkan itu pun akan berakhir dalam waktu 1 jam. Selama perjalanan, guncangan-guncangan di kabin pesawat yang terjadi setiap kali menembus awan, cukup menambah rasa was-was di hati penumpang.

19.52
Pesawat mendarat dengan selamat dan sedikit guncangan ketika roda pesawat menyentuh landasan. Masih ada juga penumpang yang histeris karena hal tersebut. Mungkin penumpang tersebut lelah. Butuh beberapa menit untuk pesawat itu berhenti. B dan D turun menuju tempat pengambilan bagasi. Koper B sudah datang, namun koper D belum muncul juga. Ketika menunggu, tak lama setelahnya pesawat rombongan Ibu L pun datang. Berita baik untuk B dan D, mereka yang semula ingin menuju ke kost masing-masing dengan menggunakan bus Damri (atau dengan Tranek. Yah, sama-sama berbiaya Rp22.500,00 kok, hahaha), Ibu L dengan baik hati menawarkan pulang bersama beliau menggunakan taksi. Rezeki emang gak kemana. Di dalam taksi pun mereka saling bercerita pengalaman yang mereka alami selama dalam penerbangan.

21.50
Alhamdulillah B dan D sudah kembali ke kediaman masing-masing. Perjalanan yang panjang dan cukup seru untuk diceritakan (bukan untuk dialami kembali, haha). Benar-benar perjalanan yang panjang. B sudah datang ke bandara sejak siang sekitar pukul 11.30 (karena boarding time-nya 12.40), dan baru tiba di lokasi tujuan, rumah kostnya tercinta, di malam hari pukul 21.50. Cerita pun selesai. Terimakasih sudah menyempatkan diri untuk membaca cerita ini ;). Ohiya, cerita ini based on true story lho, hahaha :D

Sunday, 24 May 2015

Katanya... Kata Siapa? [Mitos Si Pemanggil]

Photo credit: @duniacoass

Katanya si A itu pembawa pasien…
Katanya kalau si B yang dinas, IGD pasti rame…
Katanya kalau C sama D duet, seharian jaga bakal sepi nih…

Katanya…
Katanya…
Katanya…

***

Pernah mendengar kata-kata di atas? Teman-teman yang pernah bekerja di rumah sakit mungkin sering mendengar kata-kata tersebut. Dan ternyata, di salah satu bagian tertentu RS di Pulau S ternyata ada oknum yang mempercayai hal-hal demikian. Oknum ya, jadi jangan di generalisir :p. Kok bisa ya?

Budaya. Sama halnya dengan berbagai mitos yang beredar di masyarakat. Kenapa sampai sekarang di masa kemajuan ilmu pengetahuan seperti ini, hal-hal irasional seperti mitos masih ada? Jawabannya adalah karena sudah membudaya, sudah menjadi hal yang biasa dan dianggap lazim oleh masyarakat. Mirisnya lagi, budaya mempercayai mitos juga tumbuh di kalangan masyarakat yang (katanya) muslim. Parahnya lagi, para sarjana yang (katanya) beragama Islam pun bisa percaya!

Kenapa gw garisbawahi muslim dan Islam? Karena sesungguhnya muslim yang baik dan memang mengenal agamanya (Islam) dengan benar harusnya tahu bahwa Islam adalah agama yang rasional!

“Dan Dia menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang di bumi untukmu semuanya, (sebagai rahmat) dariNya. Sungguh, dalam hal yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir”
-Al Jaatsiyah 45:13

“...Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”
-Al Baqarah 2:164

Selain ayat-ayat di atas, akan kita temukan banyak lagi seruan-seruan dalam Alquran agar kita senantiasa berpikir, teman-teman. Mari kita telaah salah satu kalimat pembuka tadi dengan pikiran yang rasional:
“Katanya kalau si B yang dinas, IGD pasti rame…”

Kalimat ini menunjukkan hubungan kausalitas (sebab-akibat), sehingga apabila B (variabel independen) dinas di suatu waktu, maka ia akan mempengaruhi keramaian IGD (variabel dependen). Kalimat ini bisa bermakna jika seseorang yang mengatakan ini (atau yang mempercayai ini), memang melakukan observasi, dan menuangkannya dalam hasil penelitian dengan metodologi yang dapat dipertanggung jawabkan. Misalnya ia menggunakan Uji T, dan mendapatkan taraf signifikansi < 0,05, maka ia benar menyatakan adanya pengaruh yang signifikan antara kehadiran B dengan ramainya IGD. Belum lagi mempertimbangkan faktor eksklusi apakah dikatakan “rame” itu “rame” dengan pasien, atau dengan non-pasien. Jika orang itu tidak melakukan observasi, bagaimana mungkin ia bisa menyatakan kehadiran B “membawa pasien”?

Kalau sekadar ia melihat di satu hari, B datang, dan IGD ramai, lalu dengan pede mengatakan B “membawa pasien” dan tidak mau dinas bersama B, jelas itu asumsi irasional karena ia tidak mempertimbangkan kondisi ketika B datang dan ternyata IGD sepi. Ingat, Islam agama yang rasional. Jika sekadar asumsi irasional seperti kalimat di atas, berhati-hatilah, karena orang tersebut bisa terjebak dalam “thiyarah” karena “tathayyur”. Dan kedua hal ini merupakan suatu kesyirikan. Hati-hati, bung!

Apa itu tathayyur dan thiyarah? Al-Qarafi rahimahullah membedakan makna kedua lafaz tersebut. Beliau rahimahullah berkata: “Tathayyur adalah persangkaan jelek yang muncul dalam hati. sedangkan thiyarah adalah perbuatan yang dilakukan sebagai sebagai akibat dari persangkaan itu, yaitu larinya dia dari urusan yang akan dilakukan atau perbuatan yang lain.” Jadi seseorang memiliki persangkaan jelek terhadap keberadaan si B yang dianggap “membawa pasien” sehingga dia diusir/tidak diperbolehkan berada di IGD. Atau bahasa mudahnya, tathayyur adalah “menuduh” seseorang/sesuatu sebagai sebab suatu peristiwa, tanpa dapat menunjukkan landasan ilmiah hubungan sebab-akibat antara keduanya. Pamali, kata orang Indonesia.

Poin utama kenapa gw menuliskan hal ini adalah, karena thiyarah dan tathayyur adalah perbuatan syirik! Rasulullah sendiri yang mengatakan lho.. Telah diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa mengurungkan niatnya karena thiyarah, maka ia telah berbuat syirik. Para Sahabat bertanya: ‘Lalu apa tebusannya?’ Beliau menjawab: ‘Hendaklah ia mengucapkan: Ya Allah, tiada kebaikan kecuali kebaikan dari Engkau, tiadalah burung itu (yang dijadikan objek tathayyur) melainkan makhluk-Mu dan tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau.’”

Ibnul Qayyim rahimahullah menuturkan: “Orang yang ber-tathayyur itu tersiksa jiwanya, sempit dadanya, tidak pernah tenang, buruk akhlaknya, dan mudah terpengaruh oleh apa yang dilihat dan didengarnya. Mereka menjadi orang yang paling penakut, paling sempit hidupnya dan paling gelisah jiwanya. Banyak memelihara dan menjaga hal-hal yang tidak memberi manfaat dan mudharat kepadanya, tidak sedikit dari mereka yang kehilangan peluang dan kesempatan.”

Thiyarah termasuk syirik yang menafikan kesempurnaan tauhid, karena ia berasal dari apa yang disampaikan setaan berupa godaan dan bisikannya. Rasulullah bersabda: “Thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik dan setiap orang pasti (pernah terlintas dalam hatinya sesuatu dari hal ini). Hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakkal kepada-Nya.”

Mungkin teman-teman ada yang beranggapan “yaelah jol, santai aje kali. Namanya juga becandaan. Selo bro.” Tapi maaf bro, nabi kita sudah mengingatkan kita akan hal itu, dan ngomongin hal ini, gw sensitif kalo becandaannya udah nyerempet ke akidah. Lo tau kan, syirik itu dosa besar?”

***

Tapi…

Kalau si B itu mendorong kursi roda pasien ke IGD, atau menyetir mobil ambulan yang berisi pasien pasca kecelakaan lalu-lintas, baru itu boleh dikatakan si B memang “pembawa pasien”, hahaha ;).

Wallahu a’lam bishshawab

Padang, 24 Mei 2015


Referensi:
- Alquran.
- Muhammad, A. 2004. Tafsir Ibnu Katsir. (alih bahasa oleh Ghoffar, MA., Mu’thi, A., Al-Atsari, AI). Bogor: Pustaka Imam Syafi’i
- Sastroasmoro, S. & Ismael, S., 2011. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis. Edisi ke-4 ed. Jakarta: Sagung Seto
- http://al-atsariyyah.com/1655.html
- http://almanhaj.or.id/content/2397/slash/0/hukum-thiyarah-tathayyur-menganggap-sial-karena-sesuatu/
- http://elhijrah.blogspot.com/2012/01/penjelasan-tentang-makna-thiyarah-dan.html
- http://www.statistikian.com/2012/07/jenis-data-dan-pemilihan-analisis.html

Sunday, 3 May 2015

Sudahkah Kamu Mengabari Ibumu?

6 April 1994, hari dimana ia dilahirkan ke dunia ini. 6 April 2015, hari pertama ia mengukir kisah perjalanan hidup sebagai dokter muda sebuah universitas negeri ternama di pulau Sumatera. Melewati berbagai momen yang indah untuk dikenang, sebagai modal membangun mimpi di masa yang akan datang. Melewati 21 kali ujian tertulis MCQ (Multiple Choice Questions), melewati 21 kali ujian Skills lab, dan melewati ujian proposal dan ujian hasil skripsi. Puncaknya, ia harus mengikuti ujian komprehensif dan 12 stase OSCE (Objective Structured Clinical Examination) sebagai penentu apakah ia boleh melanjutkan perjuangannya dalam kerasnya kehidupan klinik atau harus berhenti sejenak memantapkan apa yang belum dimantapkan.

***

Tapi ternyata, ï·² menskenariokan cerita tambahan dalam kisah perjalanan anak muda ini, anak muda ini tidak serta merta melewati tahapan tersebut dengan mudah. Bukankah ï·² akan menguji hambaNya sesuai dengan keimanan yang dimiliki? Jika agamanya semakin kuat, semakin bertambah pula ujiannya. Demikan tafsir Ibnu Katsir dalam Q.S. Al ‘Ankabut ayat 2 yang berbunyi: 

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan 'kami telah beriman', sedang mereka tidak diuji lagi?”

Ya, ternyata anak muda ini harus melewati ujian tambahan berupa sakit sesaat menjelang ujian komprehensif dan OSCE. Jumat, 20 Maret 2015, ketika anak muda ini mengikuti rapat komisi dalam suatu lembaga negara KM FK Unand, ia gelisah karena merasa tidak enak dengan kondisi badannya saat itu. Hari berganti, ternyata kondisi badan semakin drop, 3 hari berturut-turut ia mengukur suhu tubuhnya, didapati angka yang selalu berkisar diantara 38,9 -39,1 °C. Suhu tubuh manusia normal sendiri berkisar antara 36-37,5 °C. Padahal Hari Senin ia harus mengikuti Yudisium Sarjana Kedokteran, Tidak ikut Yudisium = belum berhak atas gelar S.Ked = tidak bisa ikut ujian komprehensif dan OSCE! Bertambahlah kegelisahan anak muda itu dan hampir-hampir ia patah arang akan bisa mengikuti kedua ujian yang menentukan tersebut.

Dengan memaksakan diri, akhirnya anak muda tersebut mengambil keputusan untuk tetap mengikuti Yudisium. Dan di dalam ruang aula kampus tersebut, disampaikanlah kepada mereka (termasuk si anak muda) bahwa masa studi perklinik sudah usai dan mereka sudah boleh menuliskan gelar S.Ked di belakang nama mereka! Kebahagiaan ini bagi anak muda itu berlangsung cepat. Ketika teman-temannya sedang dalam euphoria, anak muda ini meminta tolong kepada salah seorang rekannya untuk mengantarkannya ke IGD. Ya, IGD salah satu RS yang ada di Kota Padang. Yudisium selesai, ujian baru menghampiri. Dokter jaga IGD memutuskan bahwa anak muda ini harus dirawat inap. Ya. Anak muda ini dirawat inap hari Senin sore. Diagnosis dokter ia menderita DBD (Demam Berdarah Dengue). Dan Jumat dalam minggu yang sama, ia harus mengikuti ujian. Kecemasan pun menyelimuti pikiran anak muda itu.

***

Sekilas tentang DBD. Mungkin teman-teman pembaca sudah tahu apa itu DBD. Tapi bagaimana seseorang dikatakan suspect DBD atau sudah DBD? Ternyata, DBD itu merupakan perjalanan penyakit dari apa yang disebut DF (dengue fever/demam dengue). DF inilah yang mungkin terdengar kurang familiar di masyarakat. Saya juga baru tahu bahwa DF dan DBD itu berbeda tanda dan gejala klinisnya ketika belajar di kampus kedokteran. Gejala DBD (atau DF) yang popular di masyarakat tentu demam pelana kuda dan bintik-bintik merah pada kulit. Namun poin diagnosis ini tidak khas, karena demam bisa karena berbagai mikroorganisme, dan bintik-bintik merah juga bisa menunjukkan kelainan kulit. Sebagai tambahan: nyeri di belakang bola mata, nyeri-nyeri tulang dan otot, ini juga poin diagnosis infeksi virus, karena dengue itu virus, maka gejala-gejala ini akan biasa ditemukan.

Nah, untuk meyakinkan dugaannya, dokter/tenaga kesehatan (nakes) biasanya akan bertanya riwayat bepergian ke daerah yang dicurigai banyak kasus DBD atau adakah keluarga dengan sakit serupa. Kemudian dokter/nakes melakukan tes turniket (lengan dipasangkan tensimeter, lalu dipompa dengan perhitungan tertentu dan dipertahankan selama 10 menit). Tes ini positif jika muncul ptekie (bintik merah) >10 bintik dalam area lingkaran berdiameter 5 cm kita gambar di atas lengan pasien. Ini menunjukkan “kerapuhan” dari pembuluh darah pasien, dan ini yang bisa dibilang DF atau kita kenal suspect DBD. Trombosit rendah pun ada di DF maupun DBD. Kapan bisa kita bilang DBD? Ketika ditemukan tanda kebocoran plasma, seperti kekentalan darah (hematokrit) >20% nilai normal. Tentu harus ada pemeriksaan darah dulu untuk ini :). Bagaimana pengobatan yang diperlukan, saya lanjutkan ke dalam cerita ya. Yuk, kembali menyimak cerita anak muda tadi~

***

Hal yang membuat anak muda itu cemas adalah karena bermodal ilmu seadanya yang ia tahu tentang DBD, perjalanan penyakit ini biasanya 2-7 hari. Dimana hari ke 4-5 itu adalah masa kritis DBD, sehingga perlu dilakukan pengawasan yang benar. Jika kita hitung secara matematis, maka jika demam dimulai Jumat malam, maka ia bisa keluar dari RS pada Jumat malam, atau setidaknya Jumat pagi, padahal Jumat pagi itulah waktu ujian komprehensif. Dan disaat-saat inilah, ï·² memberikan kemudahan yang tidak disangka-sangka. Bukankah ï·² dalam firmanNya pada Q.S. Al Insyirah ayat 5 dan 6 mengatakan hingga dua kali:

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

Rasulullah pernah keluar rumah pada suatu hari dalam keadaan senang dan gembira, dan beliau juga dalam keadaan tertawa seraya bersabda: 

“Satu kesulitan itu tidak pernah mengalahkan dua kemudahan, satu kesulitan itu tidak pernah mengalahkan dua kemudahan, karena bersama kesulitan itu pasti terdapat kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu terdapat kemudahan.”

Anak muda itu menelepon ibunya ketika sedang berada di IGD, dan mengabari ibunya perihal apa yang ia alami. Tidak ingin merepotkan ibunya, anak ini berkata kepada ibunya untuk tidak perlu mendatanginya, karena anak muda ini tahu ibunya yang sedang melanjutkan studi doktoral tentu memiliki beban yang lebih, ditambah dengan kesibukan kantor ibunya. Namun ternyata kasih ibu jauh lebih kuat dibandingkan dengan beban kerja dan studi yang ibunya jalani. Jadilah ibunya menghampiri ia keesokan harinya dengan mengambil penerbangan pagi :). 

Ohiya, melewati malam pertama di ruang rawat inap, anak muda ini ditemani tiga orang kawannya yang berbeda-beda usia dan kampung asalnya. Bhinneka Tunggal Ika. Hahaha. Selasa keesokannya ibu anak muda ini datang. Dokter penanggung jawab berkata dengan jelas bahwa anak muda ini memang terkena DBD. Dengan harap-harap cemas, anak muda tersebut bertanya kemungkinannya untuk mengikuti ujian. Namun dokter tersebut tidak bisa menjanjikan. Dilanda kegelisahan, ibu anak muda ini dengan penuh keibuan memberitahu anaknya untuk fokus dalam penyembuhan diri. Sampai pada titik ini, harapan anak muda tersebut sudah sangat tipis.

Kemudian datanglah teman-teman si anak muda secara silih berganti, mendoakan, membawakan berbagai makanan dan minuman. Terapi untuk DBD itu sendiri tidak ada yang spesifik, cukup memperhatikan asupan makanan serta cairan yang masuk dengan yang keluar, seperti dengan memasang cairan infus dan memastikan pasien mengkonsumsi air minum yang cukup. Prinsipnya karena “kebocoran” plasma itu sehingga cairan tubuh pasien terus berkurang, sehingga perlu digantikan dengan cukup. Sampai kapan? Tenang saja, infeksi virus biasanya akan hilang tanpa pengobatan yang spesifik seperti disebut di atas. Untuk DBD sendiri biasanya berlangsung selama 2-7 hari. Namun tetap harus dipantau karena jika terapi cairannya tidak baik, DBD bisa masuk ke tahap lanjutan penyakitnya, yaitu DSS (dengue shock syndrome), ya, pasien bisa syok yang dapat menyebabkan kematian!

Rabu, hari ketiga dirawat, 2 hari menjelang ujian. Kemudahan itu ï·² datangkan juga. Dokter membawa kabar baik. Kadar trombosit dan hematokrit anak muda itu sudah kembali normal. Artinya? Ya, anak itu boleh pulang hari itu juga! Alhamdulillah. Mendengar kabar ini, tentu anak muda dan ibunya senang. Tahu apa lagi kemudahan yang didapatkan oleh anak muda ini? Ternyata, semua biaya rumah sakit anak muda ini ditanggung oleh BPJS. Alhamdulillah. Akhirnya pulanglah anak muda itu dan ibunya ke kost. Namun setelah beberapa pertimbangan, ibunya mengajak anaknya untuk tidak tinggal di kost selama bersama ibunya. Biaya yang awalnya untuk membayar administrasi RS, dipakailah untuk membelikan sepatu untuk anaknya. Alhamdulillah again!

Anak muda ini sangat bersyukur atas kedatangan ibunya. Ia meminta restu dan doa agar ujiannya lancar kepada ibunya. Namun karena mendapat kabar adik dan kakak dari anak muda ini ternyata juga dirawat dengan gejala yang sama, ibu anak muda ini pun harus segera kembali ke ibukota. Ibu. Sosok yang sangat dihargai dalam agama Islam. Sosok yang rela bertaruh nyawa untuk melahirkan dan membesarkan anak muda ini bersama dengan kakak dan adik-adiknya.

Bi idznillah, anak muda ini mengikuti ujian di hari Jumat dan Sabtu. Kekhawatiran yang meliputi dirinya akan kondisi adik dan kakaknya alhamdulillah berkurang setelah melihat foto-foto kondisi mereka yang dikirim via whatsapp, thanks to technology. Dengan modal semangat dan hasil dari belajar kelompok ketika Kamis malam sesaat sebelum ujian, si anak muda akan segera menghadapi ujian yang menentukan ini. Dan ujian pun dimulai…

…

Minggu, 29 Maret 2015. Pengumuman kelulusan ditempel. Salah seorang senior mengabadikan gambarnya dan dikirimkan ke dalam grup. Alhamdulillah, nama anak muda itu ada! Anak muda itu sangat bersyukur, dan segera mengabari ibunya kabar baik ini. Tentu, keluarga anak muda ini bahagia akan kelulusannya. Doa ibu, doa keluarga, serta dukungan dari teman-temanlah, yang anak muda itu yakini menjadi pengantar keberhasilannya untuk menjadi dokter muda, ï·² mengabulkan doa mereka. Seminggu setelahnya anak muda ini menjalani orientasi dan pelatihan gawat darurat sebelum dibagi ke dalam siklus-siklus kecil yang ada di klinik. Menjadi dokter muda baru permulaan. Awal mula perjalanan anak muda ini meniti karirnya sebagai klinisi di masa depan.

***

6 April 2015, hari pertama ia mengukir kisah perjalanan hidup sebagai dokter muda sebuah universitas negeri ternama di pulau Sumatera. Melewati berbagai momen yang indah untuk dikenang, sebagai modal membangun mimpi di masa yang akan datang. Momen-momen sulit, senang, bahagia kesemua momen yang ada dalam perjalanan hidupnya, sebisa mungkin selalu ia kabarkan kepada kedua orangtuanya. Karena ia meyakini, tanpa orangtuanya yang mendidik dan membesarkannya, ia tidak akan bisa menjadi apa-apa. Jangan membuat orangtua kita khawatir karena kita jarang menghubungi orangtua. Kabarilah mereka, susahmu, sedihmu, bahagiamu. Berceritalah kepada mereka, selagi mereka masih ada untuk mendengar ceritamu.

Padang, 3 Mei 2015

Referensi: 
Alquran. 
Davidson, R. et al., 2014. Oxford Handbook of Tropical Medicine. 4th ed. New York: Oxford University Press. 
Longo, DL. et al., 2012. Harrison’s Principles of Internal Medicine. 18th ed. New York: McGraw-Hill.
Muhammad, A. 2004. Tafsir Ibnu Katsir. (alih bahasa oleh Ghoffar, MA., Mu’thi, A., Al-Atsari, AI). Bogor: Pustaka Imam Syafi’i.
Sudoyo, AW. et al., 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. IV ed. Jakarta: InternaPublishing. 
Cerita pengalaman hidup si anak muda.

Thursday, 26 February 2015

Thank God It's Friday!

Alhamdulillah, hari ini Hari Jumat. Hari raya umat Islam yang selalu berulang tiap pekannya. Hari dimana umat Islam melakukan syiar secara masif dan universal. Hari yang merupakan sebaik-baik hari. Dan pada hari ini, Allah memberikan rezeki kepada diriku melalui arah yang tiada kusangka. Seperti teman-teman tahu, hari ini adalah tanggal 27 Februari, satu hari menjelang tutup bulan. Dan permasalahan yang kuhadapi adalah permasalahan anak kost kebanyakan, kondisi keuanganku berada di titik nadir.. Hanya usaha penghematan dan doa yang menjadi andalan untuk menghadapi permasalahan tiap akhir bulan ini.

…

Gw terbangun pukul 01.00 dini hari, dan menyempatkan menonton siaran langsung UEFA European League (EL), menayangkan pertandingan klub favorit gw, Liverpool, menghadapi klub asal Turki, Besiktas. Dan ternyata keputusan gw untuk menonton laga ini adalah suatu keputusan yang tidak tepat, karena Liverpool harus tersingkir dari persaingan di piala UEFA ini melalui drama adu pinalti dan cukup membuat diri gw kehilangan mood. Untuk melupakan kekalahan itu, gw pun menyibukkan diri dengan bermain game cookie run dan menghabiskan waktu yang cukup lama. (ini paragraf penting abis ya buat diceritain :v)

Anggap saja paragraf di atas sebagai intermezzo, hahaha. Baik, kita lanjutkan lagi cerita berkah Jumat yang gw dapatkan kali ini. Karena mood diriku sedang tidak baik (biasa, sok-sokan die-hard fans, kalau timnya kalah, disitu kadang saya merasa sedih), akhirnya gw baru selesai beres-beres diri dan kamar sekitar jam 9 pagi (padahal dari jam 1 udah terbangun loh ._.). Karena uang di tangan hanya bersisa 3 ribu rupiah, gw berencana untuk men-jama’ makan pagi dengan makan siang, wkwkwk. Biasalah, anak kos. Usaha penghematan. Nah sesaat setelah mandi, ketika gw sedang memulai mengerjakan jurnal untuk di publish di Jurnal Kesehatan Andalas (akhirnya ada juga kerjaan positif yang gw lakukan walau mood gw lagi kurang baik hahaha), ada seseorang yang menelepon gw.

Ternyata sang penelepon adalah teman seangkatan nyokap gw! Tentu gw heran kenapa tiba-tiba beliau menelepon gw. Gw angkat teleponnya dan berbincang-bincang dengan beliau. Ternyata beliau bertanya-tanya mengenai rencana hidup dan kehidupan kuliah gw. Selesai berbicara, kami sudahi percakapan, dan gw lanjutkan kerjaan gw. Namun beberapa saat kemudian, beliau menelepon lagi. Ternyata beliau sedang berada di Padang, dan berencana bertamu singkat ke kos gw.. Beliau menyampaikan ke gw tujuannya ke Padang untuk bertemu dengan Benny Wendry, Direktur Utama Semen Padang, setelah salat Jumat kembali ke Jakarta, dan besok sudah di Jogjakarta. Namanya juga bussinessman, haha.

Beliau pun datang ke kost gw dan kami berbincang-bincang sebentar. Beliau meminta izin untuk memfoto kondisi kamar kos gw, mungkin untuk live report ke ibu gw wkwkwk. Beliau pun pamit, dan sejurus kemudian dengan cepat tangan beliau menjabat tangan gw, dengan lembaran-lembaran biru yang ada padanya mendarat dengan indah di tangan gw. MasyaaAllah. Ini mungkin yang disebut orang “salam tempel”. Setelah bersalaman, ada yang menempel.

Beliau pun beranjak pergi, meninggalkan gw dengan rasa kaget dan senang bercampur menjadi satu. Alhamdulillah. Benarlah memang doa itu adalah senjata. Dan yang lebih istimewa, doa anak kos di akhir bulan pada hari Jumat, datang secara random dan memang benar-benar tidak disangka. Siapa menyangka ternyata teman ibu datang ke kos untuk bertamu dan menyisihkan sebagian rezekinya untuk anak kos yang masih jomblo ini di penghujung bulan? Berkah Jumat. Thank God It’s Friday :)

Saturday, 14 February 2015

Latif dan Fathir

Hari sudah gelap, jama'ah maghrib sudah berpulangan dari mesjid pasca shalat berjam'ah. Ku berjalan dengan tenang hingga tiba di pertigaan jalan. Perhatianku tersita oleh dua orang kakak beradik yang dengan gembira duduk di tepi sebuah toko yang telah tutup. Sepertinya keduanya akan beranjak pergi. Namun ada satu benda yang membuatku penasaran. Sang kakak (telihat dari postur badannya yang lebih tinggi, kuterka umurnya mungkin sekitar 7-9 tahun) membawa semacam baskom berdiameter 50 cm diatas kepalanya. Didorong rasa penasaran, kutanyakanlah apa yang sang kakak bawa. Ternyata sebaskom penuh gorengan. Terdiam aku sesaat. Dalam diamku, kecoba mengingat apa yang kulakukan ketika seumuran mereka. Berbeda. 

Kemudian aku berbasa-basi menanyakan nama mereka, Latif sang kakak, dan Fathir sang adik. Ketika sang adik mengucapkan nama dirinya dengan sedikit berusaha menyebutkan huruf "r", membuat senyumku terkembang. Setelah bertanya nama, karena ketika itu hanya membawa sedikit uang, aku berencana membeli 2 buah gorengannya dengan 2 lembar uang 2 ribu. Lalu sang kakak berkata, harga gorengannya hanya seribu rupiah. Ya, hanya seribu rupiah. Jadilah aku membawa pulang 4 gorengan. Tiga buah combro dan satu buah goreng pisang, dalam plastik transparan berwarna biru. Gorengan buatan ibu mereka yang dijual hanya seribu rupiah.

Dalam perjalananku pulang menuju kost, kucoba renungi pertemuan singkat kami. Ketika itu sudah malam, dan kedua kakak beradik ini masih berjualan gorengan, yang ketika itu masih banyak gorengan yang sepertinya belum terjual, padahal ketika itu gorengannya sudah cukup dingin. Di umur mereka yang masih sangat belia, mereka sudah harus menjual gorengan di jalan-jalan sedangkan diriku masih meminta uang bulanan kepada orangtua. Cerita masa kecilku pun rasanya tidak setegar mereka yang rela waktu malamnya yang seharusnya dipergunakan untuk beristirahat, malah harus digantikan dengan kegiatan berjualan, dengan tetap riang dan tersenyum bahagia ketika ada yang membeli dagangan mereka, walau hanya terjual 4 ribu rupiah.

Semoga dagangan mereka habis, semoga Allah mempermurah rezeki mereka. Mungkin hanya doa yang kini bisa kuberikan untuk kedua kakak beradik itu. Semoga Allah meridhoi apa yang mereka lakukan dan memberikan kesejahteraan untuk keluarga mereka, sehingga mereka tidak perlu lagi berjualan di jalan. Aamiin.

Status FB pada tanggal 3 Januari 2014