Showing posts with label Curahan Hati. Show all posts
Showing posts with label Curahan Hati. Show all posts

Wednesday, 18 March 2015

Mungkin mereka lupa...

Menikmati langit senja dengan corak jingga kemerahan di atas ketinggian sekian ribu kaki di atas permukaan laut memberikan inspirasi tersendiri. Menatap indahnya gemerlap cahaya perkotaan dan sunyinya samudra yang terhampar luas yang terletak bersebelahan, diselingi pemandangan gumpalan-gumpalan awan yang menggemaskan sekaligus berbahaya membuatku kembali merenung betapa kecilnya diri ini. Ditemani handsfree, sebotol air mineral, dan beberapa batang coklat asal Berlin hadiah dari teman sejawat berbeda benua, juga coklat hadiah dari ibu yang baru berkunjung ke kota yang disebut-sebut sebagai Paris van Java, izinkan aku menceritakan pikiran random yang terlintas begitu saja dalam benakku ;)

***

Jikalau manusia-manusia itu berani mengotori tangan mereka dengan mengambil yang bukan haknya, mungkin mereka lupa jika ﷲ masih mengizinkan asetilkolin dan kanal yang diaktivasi olehnya menginisiasi kontraksi otot-otot lengan mereka. Jika nikmat itu dicabut, sanggupkah mereka tetap berlaku demikian?

Jikalau manusia-manusia itu masih bisa berdiri tegak di atas kesombongannya, mungkin mereka lupa jika ﷲ masih mengizinkan tendon achilles mereka menghubungkan gastrocnemius muscle dan soleus muscle mereka dengan calcaneus bone atau tumit mereka. Jika nikmat itu dicabut, sanggupkah mereka tetap berlaku demikian?

Jikalau manusia-manusia itu dengan mudahnya berucap kata-kata yang tidak pantas kepada manusia lainnya, mungkin mereka lupa jika ﷲ masih mengizinkan area Broca mereka tetap berfungsi mengontrol laring, bibir, mulut, dan otot-otot aksesori untuk berbicara. Jika nikmat itu dicabut, sanggupkah mereka tetap berlaku demikian?

Jikalau manusia-manusia itu begitu gampangnya memandang rendah manusia lain, mungkin mereka lupa jika ﷲ masih mengizinkan stimulus cahaya yang masuk melalui jalur visual melaju tanpa hambatan menuju korteks visual otak untuk diproses. Jika nikmat itu dicabut, sanggupkah mereka tetap berlaku demikian?

Jikalau manusia-manusia itu tega menutup telinga atas aspirasi dan jeritan rakyat mereka yang begitu menyayat hati, mungkin mereka lupa ﷲ masih mengizinkan stimulus suara itu ditransmisikan ke dalam telinga dan diteruskan dalam bentuk impuls menuju korteks auditori otak. Jika nikmat itu dicabut, sanggupkah mereka tetap berlaku demikian?

Diriku pun juga tidak sempurna. Jika curahan hatiku di atas membuat jari telunjukku mengarah kepada orang lain, maka masih ada tiga jari lain yang mengarah kepadaku. Hal ini yang akan selalu aku ingat, dalam setiap nasehat dan kritikan yang aku berikan kepada orang lain. Jika ada kemungkinan mereka lupa, maka itu juga berlaku untuk diriku.

Semoga kita bukan termasuk bagian dari orang-orang yang lupa. Jikapun kita khilaf dan terlupa sesaat, semoga ﷲ masih mengarahkan kita kepada jalan kebenaran. Padahal kita bahkan tidak memiliki kuasa penuh atas sistem organ tubuh kita, lalu mengapa kita begitu berambisi merengkuh kekuasaan dan kenikmatan dunia yang hanya fana belaka?

Mengapa kita lupa? Lupa bahwa sengketa yang kita hadapi, perselisihan yang ada dalam hidup, dinamika bermasyarakat dan bernegara, semua itu tidak akan pernah terjadi kepada kita jika ﷲ tidak mengizinkan proses-proses fisiologi dasar tetap berlangsung dalam tubuh hambaNya yang lemah dan tak berdaya ini, terlebih lagi semua hanya akan terhenti di dalam galian lubang 2 x 1 meter?

Suasana di balik jendela kaca lapis dua itu kini sudah berubah menjadi kelam dan sunyi, kehilangan warna jingganya yang memudar dibalik gelapnya malam. Jika tidak ada petunjuk cahaya di ujung sana, bagaimana kita berharap sayap itu tetap utuh membawa kita sampai ke tujuan?

Jika suasana kelam ini terus belanjut tanpa adanya cahaya yang memberikan harapan untuk terus melaju, apa yang akan terjadi setelahnya? Akankah kita hanya menunggu cahaya itu datang, atau dengan segala kesempurnaan sistem organ yang dikaruniakan kepada kita, kita tetap berusaha untuk menyalakan secercah harapan di tengah gelapnya suasana sekitar?

Wallahu a’lam bishshawab.

Di atas awan, 18 Maret 2015

Referensi:
Guyton, AC., Hall, JE. 2006. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11. (Alih bahasa oleh Irawati, dkk). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Thursday, 26 February 2015

Thank God It's Friday!

Alhamdulillah, hari ini Hari Jumat. Hari raya umat Islam yang selalu berulang tiap pekannya. Hari dimana umat Islam melakukan syiar secara masif dan universal. Hari yang merupakan sebaik-baik hari. Dan pada hari ini, Allah memberikan rezeki kepada diriku melalui arah yang tiada kusangka. Seperti teman-teman tahu, hari ini adalah tanggal 27 Februari, satu hari menjelang tutup bulan. Dan permasalahan yang kuhadapi adalah permasalahan anak kost kebanyakan, kondisi keuanganku berada di titik nadir.. Hanya usaha penghematan dan doa yang menjadi andalan untuk menghadapi permasalahan tiap akhir bulan ini.

…

Gw terbangun pukul 01.00 dini hari, dan menyempatkan menonton siaran langsung UEFA European League (EL), menayangkan pertandingan klub favorit gw, Liverpool, menghadapi klub asal Turki, Besiktas. Dan ternyata keputusan gw untuk menonton laga ini adalah suatu keputusan yang tidak tepat, karena Liverpool harus tersingkir dari persaingan di piala UEFA ini melalui drama adu pinalti dan cukup membuat diri gw kehilangan mood. Untuk melupakan kekalahan itu, gw pun menyibukkan diri dengan bermain game cookie run dan menghabiskan waktu yang cukup lama. (ini paragraf penting abis ya buat diceritain :v)

Anggap saja paragraf di atas sebagai intermezzo, hahaha. Baik, kita lanjutkan lagi cerita berkah Jumat yang gw dapatkan kali ini. Karena mood diriku sedang tidak baik (biasa, sok-sokan die-hard fans, kalau timnya kalah, disitu kadang saya merasa sedih), akhirnya gw baru selesai beres-beres diri dan kamar sekitar jam 9 pagi (padahal dari jam 1 udah terbangun loh ._.). Karena uang di tangan hanya bersisa 3 ribu rupiah, gw berencana untuk men-jama’ makan pagi dengan makan siang, wkwkwk. Biasalah, anak kos. Usaha penghematan. Nah sesaat setelah mandi, ketika gw sedang memulai mengerjakan jurnal untuk di publish di Jurnal Kesehatan Andalas (akhirnya ada juga kerjaan positif yang gw lakukan walau mood gw lagi kurang baik hahaha), ada seseorang yang menelepon gw.

Ternyata sang penelepon adalah teman seangkatan nyokap gw! Tentu gw heran kenapa tiba-tiba beliau menelepon gw. Gw angkat teleponnya dan berbincang-bincang dengan beliau. Ternyata beliau bertanya-tanya mengenai rencana hidup dan kehidupan kuliah gw. Selesai berbicara, kami sudahi percakapan, dan gw lanjutkan kerjaan gw. Namun beberapa saat kemudian, beliau menelepon lagi. Ternyata beliau sedang berada di Padang, dan berencana bertamu singkat ke kos gw.. Beliau menyampaikan ke gw tujuannya ke Padang untuk bertemu dengan Benny Wendry, Direktur Utama Semen Padang, setelah salat Jumat kembali ke Jakarta, dan besok sudah di Jogjakarta. Namanya juga bussinessman, haha.

Beliau pun datang ke kost gw dan kami berbincang-bincang sebentar. Beliau meminta izin untuk memfoto kondisi kamar kos gw, mungkin untuk live report ke ibu gw wkwkwk. Beliau pun pamit, dan sejurus kemudian dengan cepat tangan beliau menjabat tangan gw, dengan lembaran-lembaran biru yang ada padanya mendarat dengan indah di tangan gw. MasyaaAllah. Ini mungkin yang disebut orang “salam tempel”. Setelah bersalaman, ada yang menempel.

Beliau pun beranjak pergi, meninggalkan gw dengan rasa kaget dan senang bercampur menjadi satu. Alhamdulillah. Benarlah memang doa itu adalah senjata. Dan yang lebih istimewa, doa anak kos di akhir bulan pada hari Jumat, datang secara random dan memang benar-benar tidak disangka. Siapa menyangka ternyata teman ibu datang ke kos untuk bertamu dan menyisihkan sebagian rezekinya untuk anak kos yang masih jomblo ini di penghujung bulan? Berkah Jumat. Thank God It’s Friday :)