Showing posts with label Travelling. Show all posts
Showing posts with label Travelling. Show all posts

Sunday, 30 August 2015

Ketika Penerbangan Siang Berakhir di Malam Hari

13.20
30 Agustus. Pesawat Maskapai L tujuan penerbangan Kota P mempercepat lajunya untuk lepas landas dari Gate B3 Terminal 1B bandara internasional di ibukota. B, dokter muda di salah satu rumah sakit di Kota P, merupakan salah satu penumpang yang menggunakan maskapai ini untuk kembali ke Kota P selepas liburan singkat di kota kelahiran. Dalam perjalanan, B diminta pramugari untuk pindah dari seat 24C ke seat 31C, seat yang berada sejajar dengan pintu darurat di kabin belakang. Entah berhubungan atau tidak, selama perjalanan B sulit untuk memejamkan mata sejak pertukaran seat itu. Walaupun akhirnya B menyempatkan diri untuk tidur juga, hahaha.

14.35
B tersentak. Secara tiba-tiba terjadi guncangan yang cukup keras, badan pesawat seolah turun mendadak. Kurang lebih rasanya mirip dengan kondisi ketika kita melaju dalam mobil yang kencang, lalu jalur mobil kita mengalami penurunan. Serasa melayang. Tapi yang membuat B kaget bukan karena guncangan itu, namun karena ketika itu terjadi, secara serentak berteriak histeris. Menegangkan. Setidaknya itu menurut penumpang di seat 32. Untuk B, ia kembali mencoba tidur dengan handsfree terpasang di telinganya.

14.45
Tak lama setelah guncangan tersebut, kapten pesawat mengumumkan bahwa cuaca di Kota P belum memungkinkan untuk pesawat melakukan pendaratan. Alhasil, pesawat pun berputar-putar di atas Teluk B, Kota P, sambil menunggu kesempatan untuk mendarat apabila kondisi cuaca membaik. Setelah sekian lama, datang pengumuman baru dari kapten pesawat bahwa tidak bisa mendarat di Kota P dan terpaksa mengarahkan laju pesawat menuju bandara di Kota M.

16.37
Sudah 3 jam lebih B mengudara sejak dari bandara ibukota. Akhirnya pesawat yang ditumpangi B mendarat di landasan pacu bandara di Kota M. Untuk informasi, waktu tempuh normal Kota M ke Kota P atau sebaliknya dengan menggunakan pesawat adalah 1 jam. B harus menunggu sekian lama untuk menanti kepastian kapan ia bisa kembali terbang menuju Kota P. Untungnya, B tidak sendiri. D, salah satu rekannya yang juga dokter muda, berada dalam penerbangan yang sama. Beberapa penerbangan dari Kota M ke Kota P pun ditunda.

17.02
Hal yang tidak disangka-sangka, di bandara kota M, mereka bertemu dengan beberapa dosen mereka di ruang tunggu bandara Kota M, salah satunya Ibu L. Rupanya Ibu L dan rekan dosennya menjadi pengawas UKMPPD, semacam ujian nasional untuk para calon dokter di Indonesia. Kondisi penerbangan Ibu L ternyata lebih ekstrem dibandingkan penerbangan B dan D. Pesawat mereka yang sudah mengudara menuju Kota P, harus memutar kembali ke Kota karena cuaca yang tidak memungkinkan, ditambah pengumuman kapten pesawat mereka yang menambah keresahan di hati penumpang: “karena alasan bahan bakar”. Salah seorang penumpang berkomentar, “kalau avturnya abis di tengah-tengah, dimana mau nyari SPBU di atas sini coba”, cerita Ibu L.

17.33
Alhamdulillah, B dan D akhirnya mendapat kepastian. Setelah proses boarding ulang yang cukup lama (B dan D harus menunggu lebih dari 1 jam di dalam pesawat), pesawat pun mulai bergerak meninggalkan landasan pacu bandara Kota M setelah terdengar kalimat passengers complete dari pengeras suara kabin pesawat Sambil menunggu proses boarding, salah satu pramugari yang bertugas di kabin belakang (pramugari yang meminta B untuk pindah seat), cukup ramah untuk diajak diskusi santai dengan para penumpang. Dan ternyata pramugari tersebut baru berusia 21 tahun. Usia 21 dan sudah bekerja, sedangkan B, usia 21 dan, ah, sudahlah. hahaha. Perjalanan yang panjang dan menegangkan itu pun akan berakhir dalam waktu 1 jam. Selama perjalanan, guncangan-guncangan di kabin pesawat yang terjadi setiap kali menembus awan, cukup menambah rasa was-was di hati penumpang.

19.52
Pesawat mendarat dengan selamat dan sedikit guncangan ketika roda pesawat menyentuh landasan. Masih ada juga penumpang yang histeris karena hal tersebut. Mungkin penumpang tersebut lelah. Butuh beberapa menit untuk pesawat itu berhenti. B dan D turun menuju tempat pengambilan bagasi. Koper B sudah datang, namun koper D belum muncul juga. Ketika menunggu, tak lama setelahnya pesawat rombongan Ibu L pun datang. Berita baik untuk B dan D, mereka yang semula ingin menuju ke kost masing-masing dengan menggunakan bus Damri (atau dengan Tranek. Yah, sama-sama berbiaya Rp22.500,00 kok, hahaha), Ibu L dengan baik hati menawarkan pulang bersama beliau menggunakan taksi. Rezeki emang gak kemana. Di dalam taksi pun mereka saling bercerita pengalaman yang mereka alami selama dalam penerbangan.

21.50
Alhamdulillah B dan D sudah kembali ke kediaman masing-masing. Perjalanan yang panjang dan cukup seru untuk diceritakan (bukan untuk dialami kembali, haha). Benar-benar perjalanan yang panjang. B sudah datang ke bandara sejak siang sekitar pukul 11.30 (karena boarding time-nya 12.40), dan baru tiba di lokasi tujuan, rumah kostnya tercinta, di malam hari pukul 21.50. Cerita pun selesai. Terimakasih sudah menyempatkan diri untuk membaca cerita ini ;). Ohiya, cerita ini based on true story lho, hahaha :D

Wednesday, 18 March 2015

Mungkin mereka lupa...

Menikmati langit senja dengan corak jingga kemerahan di atas ketinggian sekian ribu kaki di atas permukaan laut memberikan inspirasi tersendiri. Menatap indahnya gemerlap cahaya perkotaan dan sunyinya samudra yang terhampar luas yang terletak bersebelahan, diselingi pemandangan gumpalan-gumpalan awan yang menggemaskan sekaligus berbahaya membuatku kembali merenung betapa kecilnya diri ini. Ditemani handsfree, sebotol air mineral, dan beberapa batang coklat asal Berlin hadiah dari teman sejawat berbeda benua, juga coklat hadiah dari ibu yang baru berkunjung ke kota yang disebut-sebut sebagai Paris van Java, izinkan aku menceritakan pikiran random yang terlintas begitu saja dalam benakku ;)

***

Jikalau manusia-manusia itu berani mengotori tangan mereka dengan mengambil yang bukan haknya, mungkin mereka lupa jika ﷲ masih mengizinkan asetilkolin dan kanal yang diaktivasi olehnya menginisiasi kontraksi otot-otot lengan mereka. Jika nikmat itu dicabut, sanggupkah mereka tetap berlaku demikian?

Jikalau manusia-manusia itu masih bisa berdiri tegak di atas kesombongannya, mungkin mereka lupa jika ﷲ masih mengizinkan tendon achilles mereka menghubungkan gastrocnemius muscle dan soleus muscle mereka dengan calcaneus bone atau tumit mereka. Jika nikmat itu dicabut, sanggupkah mereka tetap berlaku demikian?

Jikalau manusia-manusia itu dengan mudahnya berucap kata-kata yang tidak pantas kepada manusia lainnya, mungkin mereka lupa jika ﷲ masih mengizinkan area Broca mereka tetap berfungsi mengontrol laring, bibir, mulut, dan otot-otot aksesori untuk berbicara. Jika nikmat itu dicabut, sanggupkah mereka tetap berlaku demikian?

Jikalau manusia-manusia itu begitu gampangnya memandang rendah manusia lain, mungkin mereka lupa jika ﷲ masih mengizinkan stimulus cahaya yang masuk melalui jalur visual melaju tanpa hambatan menuju korteks visual otak untuk diproses. Jika nikmat itu dicabut, sanggupkah mereka tetap berlaku demikian?

Jikalau manusia-manusia itu tega menutup telinga atas aspirasi dan jeritan rakyat mereka yang begitu menyayat hati, mungkin mereka lupa ﷲ masih mengizinkan stimulus suara itu ditransmisikan ke dalam telinga dan diteruskan dalam bentuk impuls menuju korteks auditori otak. Jika nikmat itu dicabut, sanggupkah mereka tetap berlaku demikian?

Diriku pun juga tidak sempurna. Jika curahan hatiku di atas membuat jari telunjukku mengarah kepada orang lain, maka masih ada tiga jari lain yang mengarah kepadaku. Hal ini yang akan selalu aku ingat, dalam setiap nasehat dan kritikan yang aku berikan kepada orang lain. Jika ada kemungkinan mereka lupa, maka itu juga berlaku untuk diriku.

Semoga kita bukan termasuk bagian dari orang-orang yang lupa. Jikapun kita khilaf dan terlupa sesaat, semoga ﷲ masih mengarahkan kita kepada jalan kebenaran. Padahal kita bahkan tidak memiliki kuasa penuh atas sistem organ tubuh kita, lalu mengapa kita begitu berambisi merengkuh kekuasaan dan kenikmatan dunia yang hanya fana belaka?

Mengapa kita lupa? Lupa bahwa sengketa yang kita hadapi, perselisihan yang ada dalam hidup, dinamika bermasyarakat dan bernegara, semua itu tidak akan pernah terjadi kepada kita jika ﷲ tidak mengizinkan proses-proses fisiologi dasar tetap berlangsung dalam tubuh hambaNya yang lemah dan tak berdaya ini, terlebih lagi semua hanya akan terhenti di dalam galian lubang 2 x 1 meter?

Suasana di balik jendela kaca lapis dua itu kini sudah berubah menjadi kelam dan sunyi, kehilangan warna jingganya yang memudar dibalik gelapnya malam. Jika tidak ada petunjuk cahaya di ujung sana, bagaimana kita berharap sayap itu tetap utuh membawa kita sampai ke tujuan?

Jika suasana kelam ini terus belanjut tanpa adanya cahaya yang memberikan harapan untuk terus melaju, apa yang akan terjadi setelahnya? Akankah kita hanya menunggu cahaya itu datang, atau dengan segala kesempurnaan sistem organ yang dikaruniakan kepada kita, kita tetap berusaha untuk menyalakan secercah harapan di tengah gelapnya suasana sekitar?

Wallahu a’lam bishshawab.

Di atas awan, 18 Maret 2015

Referensi:
Guyton, AC., Hall, JE. 2006. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11. (Alih bahasa oleh Irawati, dkk). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Monday, 16 February 2015

Memetik Hikmah dari Bunga Edelweiss, Pemanis Kisah Penjelajahan Puncak Marapi

Edelweiss Flower, The Everlasting Flower
Kalian tahu bunga Edelweiss? Jika berbicara tentang Edelweiss, ada dua jenis bunga yang sama-sama disebut Edelweiss. Edelweiss Eropa dengan nama latin Leontopodium alpinum, dan Edelweiss Jawa. Dan dalam tulisan ini, saya akan sedikit bercerita mengenai Edelweiss Jawa. Bunga yang masih termasuk dalam famili bunga matahari ini, memiliki nama latin Anaphalis javanica. Dikenal sebagai “Bunga Abadi”, bunga putih yang hanya hidup di area pegunungan pada ketinggian >2000 mdpl termasuk spesies tumbuhan yang dilindungi. Lalu apa istimewanya bunga Edelweiss ini?

***

Jumat, 9 Januari 2014, adalah hari terakhir ujian blok X.3. Untuk kami yang angkatan 2011, kegiatan blok kami berakhir sehari sebelumnya. Alhamdulillah, hari terakhir penulis menjalani perkuliahan preklinik (dengan skripsi yang menanti untuk diselesaikan…). Pada hari tersebut, kami, sekumpulan pemuda single nan rupawan, berdiskusi di dalam Masjid Dawa’ul Ilmi membahas masalah tenda, perlengkapan, hingga medical kit sebagai persiapan untuk mendaki. Ya, kami berencana untuk mendaki Puncak Marapi, sebagai pelepas penat pasca ujian blok, terkhusus diriku, yang memang senang dengan aktivitas alam seperti pendakian ini. Kami itu, Bang Imadie angkatan 2010, aku, Cuytio, Fadhel, dan Zoelbazzray angkatan 2011, Zoelherman, Randi Aji, Ipul, Adnan, dan Wayuy angkatan 2012. Diskusi selesai, kami pulang dengan catatan pembagian tugas yang perlu dicari dan list kendaraan yang akan membawa kami kesana. 1 mobil dan 3 motor. Keesokannya kami melengkapi persiapan yang dibutuhkan dan melakukan gladi pendirian tenda untuk memperkirakan waktu dan luas tempat yang diperlukan. Dan kami harus kembali lagi besoknya tepat pukul 07.00, harus ONTIME, kata ketua perjalanan kami.
10 pemuda single nan rupawan
Hari keberangkatan! Tapi ternyata budaya jam karet masih berlaku, hahaha. Alih-alih kumpul pukul 07.00, keberangkatan kami molor 3 jam, dan akhirnya kami sampai di Tower tempat memarkir kendaraan kami dan memulai pendakian sekitar pukul 14.40. Dari Tower, kami menuju pos pesanggrahan setelah sebelumnya melewati pos jaga. Kami sempatkan mengambil gambar plang bertuliskan KM 4, yang kami asumsikan itu jarak yang tersisa yang perlu kami tempuh. Dan ternyata kudapatkan suatu fakta yang baru diketahui saat penurunan kembali (setelah diberitahu Fadhel), bahwa KM 4, KM 3, dan seterusnya, hanya menggambarkan perpindahan dari titik satu ke titik lainnya! Iya, perpindahan. Perpindahan yang temannya jarak itu lho yang dibahas dalam cabang dari mekanika klasik, yaitu kinematika. Which means, jarak yang kami tempuh ternyata lebih jauh dari plang-plang penanda KM tersebut. Dan aku tertipu. Hahaha. Setelah melewati medan yang penuh liku dan banyak tempat pendakian yang curam dan melelahkan, mata kami dimanjakan dengan indahnya cahaya jingga yang berlatarkan siluet gunung dengan kelabunya awan dan segaris warna biru langit, merangkai suatu fenomena yang kita sebut ‘sunset’. MasyaaAllah.

Sunset di Gunung Talang
Sesampainya di daerah cadas, kami mengeksplorasi daerah ini untuk menentukan di titik mana kami dapat berkemah, lalu kami berbagi tugas untuk menegakkan dua buah tenda dan menyalakan api unggun. Setelah makan malam, kami kembali ke tenda masing-masing dan melakukan berbagai macam hal konyol didalam tenda, menunggu rasa kantuk menyelimuti bagian Reticular Activating System di batang otak sehingga kami dapat bermimpi indah. Dan tentunya dengan penuh penantian dalam hati akan dapat menaklukkan Puncak Marapi esoknya dan menjelajahi Taman Bunga Edelweiss yang berada dibalik puncak tersebut. Semoga cuaca besok bersahabat, harap kami kepada Yang Maha Mendengar. Keesokannya, doa kami terkabul! Alhamdulillah, cuaca sangat bersahabat, bahkan hingga kami sampai kembali ke rumah masing-masing :).

Perjalanan menempuh batu-batu cadas yang curam dan terjal pun dimulai. Tas kecil dipinggang, carrier disandang, sarung tangan terpasang. Botol-botol minuman 1.5 L yang kosong sengaja kami bawa untuk melakukan pengisian di sumber air yang ada di daerah puncak. Dimulai sekitar pukul 06.30, sekitar pukul 07.10 kami berhasil naik sampai daerah lapangan yang sangat luas dimana terdapat bendera merah putih berkibar dengan gagahnya, ditengah terpaan angin yang sangat kencang berhembus. Sebuah kebanggaan dapat berdiri tegak dengan sikap hormat mengarah kepada Sang Saka Merah Putih di ketinggian >2.500 m dpl. Lalu kami melanjutkan perjalanan kami menempuh butiran-butiran debu yang diterbangkan oleh angin kencang tersebut. Walaupun hanya butiran debu, ketika Allah mengizinkan, ternyata butiran tersebut dapat membuat air mata ini tertetes karena rasa perih.






Saat di perjalanan, ketika sudah mendekati puncak, kami menemukan kawah Marapi yang di sisi seberang sana mengeluarkan gas putih dan memancing rasa penasaran. Kupinjam handphone Bang Imadie, dan seorang diri kucoba menuruni daerah kawah tersebut. Cukup sulit, karena pijakannya yang menurun dan terdiri dari batu-batu kecil yang tidak stabil ketika dipijak. Beruntung beberapa gambar dalam kawah tersebut berhasil kuabadikan dalam handphone Bang Imadie. Kawah yang dekat dari sisi kami tidak menunjukkan tanda-tanda kawah aktif, mungkin kawah di sisi lainnya yang mengeluarkan gas itu yang aktif. Sayang diriku tidak berhasil mengintip keseluruhan isi kawah tersebut. Sesaat setelahnya, sekitar pukul 07.30, Puncak Marapi sudah terjangkau oleh mata kami! Untuk mengabadikan detik-detik penaklukan Puncak Marapi ini, Bang Imadie dan diriku berinisiatif untuk merekam momen yang kami nantikan ini. 3.. 2.. 1.. Allahu akbar! Kami berhasil menaklukkan Puncak Marapi! Puncak Prapati, tepatnya (karena ada dua puncak disini, Puncak Prapati dan Puncak Garuda).

Puncak Prapati Gunung Marapi
Puncak Garuda Gunung Marapi. Model: Zoelbazzray

Salam cinta dari ketinggian 2.981 mdpl
Setiba di puncak, tentu kami mengabadikan banyak momen disana. Seperti view Gunung Singgalang dari Puncak Marapi, Danau Singkarak, dan kami juga menyempatkan untuk membuat video pesan singkat untuk keluarga tercinta. Setelahnya kami beranjak menuju checkpoint selanjutnya. Taman Bunga Edelweiss. Menempuh jalur yang menurun dan (masih) dengan angin yang berhembus kencang. Kami terbagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama sudah tiba di Taman Bunga Edelweiss selagi kami masih di Puncak Prapati. Karena itulah kami sempat berhenti sejenak karena tidak tahu rute mana yang harus diambil. Area setelah puncak ini memang luas sekali. Beruntung ada pendaki lain yang datang setelah kami menunjukkan arah jalan yang benar. Dan kami pun menyusuri jalan menurun ini kurang lebih 45 menit dari Puncak Prapati. Setelah Puncak Prapati tadi, rasa lelah kami juga akan terbayar di Taman Bunga Edelweiss ini.
Taman Bunga Edelweiss. Model: Cipul
Taman Bunga Edelweiss! Ribuan bunga terhampar mendesak tepian-tepian jurang. Taman yang dipisahkan oleh 2 tebing yang cekungan dibawahnya membentuk mata air ini, memperlihatkan perpaduan warna tangkai hijau tinggi dengan bunga putih serta warna khas abu dan pasir gunung yang indah. Kusempatkan menulis penggalan ceritaku di daerah mata air diantara dua tebing yang agak kering, sambil merenungkan kemampuan hidup “bunga abadi” yang luar biasa ini. Kenapa disebut bunga abadi? Karena usia bunga ini dapat mencapai 100 tahun! Bunga Edelweiss adalah tumbuhan pionir yang mampu hidup dalam lingkungan tandus tanah vulkanik muda di daerah pegunungan. Ia dapat tumbuh di daerah yang sangat panas didekat kawah maupun daerah berangin kencang seperti di tebing, berkat akarnya yang kokoh menghujam bumi. Bunganya sangat disukai oleh berbagai macam serangga, akarnya jika cukup kuat dapat dijadikan tempat bersarangnya burung Myophonus glaucinus. Memberikan kebermanfaatan bagi sekitar, walaupun hidup ditengah lingkungan yang sulit dan keras. Ribuan pendaki bersusah payah datang setiap tahunnya untuk melihat bunga ini. Walau banyak oknum yang coba membahayakan keberadaan spesies ini, tidak sedikit pihak yang ingin melestarikan dan menjaganya.

***     

Bunga Edelweiss. Dikenal sebagai “Bunga Abadi”, bunga putih yang hanya hidup di area pegunungan pada ketinggian >2000 m dpl ini memberikan kita banyak pelajaran berarti. Untuk dapat melihatnya dibutuhkan pengorbanan. Memberikan kebermanfaatan bagi sekitar, walaupun hidup ditengah lingkungan yang bukan zona nyaman diri. Mampu menjadi pionir dalam satu usaha kebaikan, walau banyak tangan-tangan yang dapat membahayakan dirinya karena kebaikan yang ada padanya. Sebaik-baik bunga yang bermanfaat bagi yang lain, seolah mencontohkan kepada kita manusia bagaimana cara memperlakukan orang lain. Bukankah Rasulullah saw. pernah bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia?

Wallahu a’lam bishshawab

Padang, 16 Januari 2015

Friday, 13 February 2015

Dinginnya Puncak Talang, Hangatnya Kebersamaan

Cerita ini saya ambil dari buku catatan perjalanan pribadi milik saya, dengan beberapa perubahan. Selamat menikmati ;)


 ***

Allahu akbar! Dua hari yang luar biasa. Dua hari perjalanan tujuh jomblo berpetualang menikmati alam ciptaan-Nya yang agung. Tujuh orang tersebut, 5 orang mahasiswa FK muda yaitu saya sendiri, kemudian Bang Fauzul, Prima, Adnan, dan Aji, Lalu satu-satunya mahasiswa FK tua yang ikut dalam rombongan, ketua dari grup sosialita, bang dr. Panji Andhika (ketika cerita ini ditulis, doi masih Sarjana Kedokteran alias S. Ked, hehehe), serta seorang tentara muda yang berpangkat Sersan, yang Allah takdirkan bertemu dengan kami di Masjid Raya Bukit Sileh. Bang Suwardi namanya. Ini adalah pendakian perdana yang saya lakukan, dan gunung pertama yang saya jajaki ini adalah Gunung Talang, yang terkenal dengan view 3 danaunya.

Dari 29 buah jumlah gunung yang ada di Sumatra Barat, hanya 7 yang memang lazim dilakukan pendakian, dan Gunung Talang merupakan satu diantaranya, selain Gunung Marapi, Gunung Sago, Gunung Pasaman, Gunung Singgalang, Gunung Tandikek, dan Gunung Talamau. Gunung Talang sendiri terletak di Kabupaten Solok, sekitar 9 km dari kota Arosuka, ibukota Kabupaten Solok. Pendakian bisa melalui Bukit Sileh (rute yang kami lewati) atau Alahan Panjang yang cenderung lebih landai namun waktu tempuhnya lebih lama. Gunung Talang memiliki ketinggian 2.597 mdpl. Status Gunung Talang sendiri masih termasuk gunung berapi yang aktif, dan menurut Om Google, terakhir Gunung Talang meletus pada tanggal 11 April 2005. Alhamdulillah perjalanan kami ke Gunung Talang berlangsung aman dan kami pulang dalam keadaan selamat dan bahagia.

Seperti wacana kebanyakan, acara pendakian Gunung Talang ini hampir tidak berjalanan, karena minimnya konfirmasi dari calon peserta pendakian. Saya pun berinisiatif untuk membuat grup Line dengan nama grup: “Talang, here we go!” Secercah harapan pun muncul. Dari 7 orang calon peserta yang di-invite ke dalam grup tersebut, 2 orang batal bergabung. Dan bang Fauzul bergabung berama kami di saat-saat last minute, hanya dari percakapan telpon. Jika saja ketika itu bang Fauzul tidak ikut, entah bagaimana nasib kami 5 orang awam yang mencoba peruntungan mendaki gunung untuk pertama kalinya, haha. Allah selalu memberikan skenario yang terbaik untuk hambaNya J. Dengan segala persiapan yang hectic, kami berbagi tugas mencari perlengkapan yang dibutuhkan. Saya mencari minyak tanah 1,5 L, lalu bersama Prima mencari tenda, Aji membeli kompor lapangan dan parafin, bang Fauzul membawa rantang untuk masak dan tentunya barang pribadi yang disiapkan individual. Saya juga meminjam 2 buah carrier (milik Bone dan Fauzul 2011), satu untuk saya dan satu untuk Adnan.

Berangkatlah kami berenam, dengan 4 motor, menuju ke arah Solok, melewati Indarung, menempuh waktu kurang lebih 2,5 jam. Perjalanan yang cukup melelahkan dan membuat bagian tubuh bawah sampai tungkai kesemutan karena posisi yang statis di atas motor. Beruntung bang Fauzul memiliki teman yang tinggal di kaki Gunung Talang. Kami sempatkan bertamu sekitar pukul 17.00 ke rumah teman bang Fauzul tersebut, bang Ilyas namanya. Abang Ilyas ini sangat Islami, dan ketika kami bertamu, bang Ilyas datang bersepeda. Tahu dari mana abang tersebut bersepeda? Dari Padang! Abang Ilyas bercerita waktu yang ditempuh untuk bersepeda kurang lebih 10 jam. Allahu akbar. Saya sendiri hanya bisa kagum. Keluarganya juga dengan hangat menjamu kami, sejenak kami beristirahat meregangkan otot-otot tubuh kami yang kaku karena lama di atas motor, sambil bercengkrama dengan keluarga Bang Ilyas. Kemudian sekitar pukul 17.40 kami pamit dan melanjutkan perjalanan kami.

Bersama keluarga Bang Ilyas

Setibanya di Bukit Sileh, kami sempatkan berfoto dengan latar Gunung Talang, sebagai target pendakian kami kali ini. Kami tunaikan salat Magrib bersama penduduk, lalu menyambungnya dengan salat Isya, di Masjid Raya Bukit Sileh. Di Masjid Raya ini lah kami bertemu dengan Sersan Suwardi. Setelah berbincang-bincang beberapa saat, kami dan Sersan Suwardi pun bersepakat untuk mendaki bersama. Sersan Suwardi pergi sebentar mengambil barang-barangnya, dan beliau datang dengan bermodalkan tas hitam, topi, dan pakaian loreng khas TNI lengkap dengan sepatu boot-nya. Kami parkir motor-motor kami di dekat Musola, dan kami mulai pendakian kami, tepat pukul 20.00. Pendakian malam hari, dengan parang ditangan, bang Fauzul sebagai leader memimpin pendakian kami ini. Sempat kami tersasar, karena memang sepanjang rute pendakian, vegetasi di kiri dan kanan jalan dipenuhi dengan pohon-pohon besar dan ilalang yang tinggi. Sehingga memang tidak terlalu nampak view kota Solok selama pendakian awal.

Sesaat sebelum pendakian
Gunung Talang dari kejauhan
















Kemah kami
Benar-benar pendakian malam yang panjang dan menegangkan (karena memang jangkauan penglihatan yang terbatas, walau masing-masing orang sudah memegang senter). Dengan penuh warna dan lika-liku, kami pun berhasil mendirikan tenda 5 jam dari start! Sersan Suwardi tidak menunjukkan tanda-tanda letih sedikit pun. Berkeringat pun tidak. Luar biasa, masyaaAllah. Memang kami dan Sersan berada dalam level yang jauh berbeda. Kurang lebih sekitar jam 01.00 kami mulai berkemah. Masih ada sinyal di daerah ini, tentu saya manfaatkan untuk update status, hahaha. Kami berbagi tugas untuk mendirikan tenda, masak, serta membuat api unggun. Cuaca di atas memang sangat dingin. Karena kami hanya membawa 1 tenda, sehingga kami membagi shift untuk tidur, tiap jam bergantian. Beberapa dari kami menyempatkan untuk membaca Alquran. Setiap lantunan yang diperdengarkan memberikan kehangatan bagi diri. Kami juga sempatkan berbincang-bincang hangat ketika shift jaga kami diselimuti hawa dingin Pintu Cadas tempat kami berkemah.

Setelah shift jaga terakhir, yang menandakan hari sudah pagi, teman-teman membangunkan kami yang sedang terlelap. Sekitar pukul 05.00, setelah kami menunaikan salat Subuh, maka kami bersiap-siap untuk mendaki menuju puncak. Semua barang-barang ditinggalkan di tenda, kami membawa barang seperlunya, dan saya sendiri membawa Alquran, P3K, snack, dan tentunya, buku untuk menuliskan kisah perjalanan ini XD. Kami mendaki jalan terjal berbatu cadas. Kami membutuhkan waktu 1 jam untuk mencapai puncak. Alhamdulillah, energi yang terkuras selama perjalanan, semua terbayar dengan pemandangan yang mengagumkan dari Puncak Gunung Talang! Sambil menunggu sunrise, kami sempatkan berfoto dengan latar 3 danau, foto dengan tema “negeri di atas awan”, dan banyak lagi. Setelah sunrise muncul, kami abadikan momen indah tersebut, dan menyempatkan diri untuk selfie dengan tongsis yang dibawa oleh Bang Panji =D.
View 3 Danau, 3 Puncak Gunung
Negeri di atas awan















Sunrise. Model: Randi Aji

Boyband Gunung Talang
Saat momen teman-teman berfoto, saat itu saya sedang menuliskan catatan perjalanan ini dengan tangan yang seolah mati rasa karena begitu dinginnya di puncak. Jika membaca tulisan asli cerita ini, maka akan kalian dapati tulisan saya yang sangat jelek, karena memang sulit sekali menulisnya ketika itu, hahaha. Kami juga menyusuri jalur trekking di puncak itu, dan menemukan berbagai view pepohonan kering, celah bebatuan yang mengeluarkan asap belerang, juga Taman Edelweiss (waktu menulis ini, saya belum tahu jika lokasi tersebut adalah Taman Edelweiss hehe). Pengalaman saya dengan Edelweiss juga dapat dibaca di catatan perjalanan saya yang lain, dalam Ekspedisi Marapi setelah Ekspedisi Talang ini. Ohiya, saya juga menyempatkan tilawah Alquran di Puncak Gunung Talang ini, dan itu pengalaman membahagiakan :).

Bunga Edelweiss yang belum mekar






Kepulan asap belerang di tengah Taman Edelweiss
Celah belerang. Model: Penulis & Sersan Suwardi



Walau badan kami seluruhnya menggigil karena cuaca yang begitu dingin, hal tersebut bukan menjadi penghalang bagi kami untuk bersenda gurau, berfoto, dan mengeksplorasi Puncak Gunung Talang. Firman Allah dalam Surat Al Mulk ayat 16: “Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya.” Kebersamaan yang singkat dengan keluarga Bang Ilyas, Sersan Suwardi, dan teman-teman lain dalam 2 hari ini begitu membekas di hati. Ketangguhan Sersan Suwardi yang dapat kita jadikan teladan dalam hal ketangguhan fisik, kesederhanaan dan keramahan bang Ilyas dan keluarga dalam menjamu kami meskipun kami merupakan “orang asing” bagi mereka. Kebersamaan yang menghangatkan. Really a beautiful moment to remember :).

Wallahu ‘alam bishshawab
Puncak Gunung Talang, 30 Mei 2014